Peristiwa 17 oktober 1952

(0 customer rating)

Bagikan

Penulis : A.H. Nasution

Penerbit : Narasi

Tahun Terbit :

ISBN : 979-168-311-5-1

Jumlah Halaman : 112 Halaman

Sisa stock :

Rp 20.000,-

Harga normal: Rp 25.000,-

Hemat: Rp 5.000,-



SINOPSIS

Pagi tanggal 17 Oktober 1952, suasana Jakarta terasa lebih mencekam. Hanya dalam hitungan menit, ribuan massa mendatangi gedung parlemen di Pejambon, Jakarta Pusat. Setelah mendobrak masuk gedung parlemen kemudian mereka menuju Istana Presiden. Kala itu, dua buah tank, empat kendaraan lapis baja, dan ribuan orang menyerbu memasuki gerbang Istana Merdeka. Sejumlah moncong tank dan meriam Angkatan Darat juga menghadap langsung ke arah istana. Akibat dari kejadian itu A.H. Nasution diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Ada beberapa pendapat tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan kejadian yang kelak dikenal dengan “Peristiwa 17 Oktober 1952” itu. Ada yang menuding PSI, yang saat itu memainkan kartu anti-Sukarno dan anti-komunis, berada di balik gerakan tersebut. Presiden Sukarno sendiri dan beberapa pihak juga memandang peristiwa 17 Oktober 1952 sebagai percobaan “setengah Coup” militer terhadap Presiden Sukarno. Hubungan Jenderal A.H. Nasution dengan Sukarno memang penuh liku. Sebagai seorang patriot yang turut dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia, mengapa Jenderal A.H. Nasution menempatkan “moncong” meriam ke arah istana. Apa yang sebenarnya terjadi? ***Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Sumatra Utara, 3 Desember 1918. Karier militernya dimulai tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia. Dua tahun kemudian, ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Lalu Mei 1946, ia dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jenderal Sudirman). Sebulan kemudian ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Nasution dianugerahi pangkat jenderal besar bintang lima. Ia tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

ULASAN PARA PEMBELI

(0) 0.0 dari 5 bintang
5 Bintang
4 Bintang
3 Bintang
2 Bintang
1 Bintang

Harap login terlebih dahulu untuk menulis ulasan anda disini